Sabtu, 22 Agustus 2009

Memutus Rantai Kemiskinan Nelayan Melalui Program Bebas Perahu Layar dan Rumponisasi


Tingkat kesejahteraan yang rendah pada masyarakat nelayan kecil tercermin dari rendahnya pendapatan dan lemahnya “posisi tawar” pada hampir setiap transaksi kehidupan ekonominya, belum lagi tingginya risiko harus ditanggung, serta mahalnya investasi yang harus dikeluarkan menyebabkan nelayan kecil sulit untuk majuya

Berbagai program untuk mengeluarkan masyarakat pesisir dari belenggu telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, seperti PEMP (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir), bantuan dana bergulir, bantuan alat tangkap serta bantuan lainnya, ternyata jumlah nelayan kecil secara magnitute tetap bertambah. Karena itu meskipun banyak upaya telah dilakukan, umumnya bisa dikatakan bahwa upaya-upaya tersebut belum membawa hasil yang memuaskan.

Melihat kepada kompleksnya permasalahan nelayan, serta terbatasnya keuangan daerah, maka Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) melakukan identifikasi masalah, maka masalah yang terbesar adalah terbatasnya akses armada penangkapan yang digunakan nelayan dalam melaut. Sebagian besar armada penagkapan yang digunakan nelayan adalah perahu tanpa motor alias perahu layar.

Sebagai solusi yang direkomendasikan oleh DKP adalah program motorisasi armada nelayan skala kecil. Rekomendasi ini sinergi dengan usulan-usulan yang sering disampaikan oleh nelayan setiap kunjungan Bupati kewilayah pesisir. Mulai tahun 2006 program ini dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, dengan motto Padang Pariaman bebas perhu layar tahun 2008.

Dalam program motorisasi ini, bantuan yang diberikan kepada nelayan adalah mesin Long Tail (mesin yang telah dimodifikasi dengan kapasitas setara 5 PK). Bantuan didistribusikan kepada nelayan yang memenuhi kriteria sebagai berikut ; telah memiliki perahu, nelayan penuh dan belum pernah mendapat bantuan. Bantuan yang telah direalisasikan sejak tahun 2006 sampai tahun 2009 sebanyak 538 unit.

Program motorisasi ini skala kecil telah memberikan dampak yang cukup positip terhadap peningkatan pendapatan nelayan. Dampak positif keberhasilan ini secara sederhana dapat dibuktikan yakni bertambahnya jumlah perahu bermotor dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir.

Berdasarkan data survey yang dilakukan oleh petugas lapangan DKP Padang Pariaman, dimana pada tahun 2005 jumlah perahu tanpa motor di Kabupaten Padang Pariaman berjumlah 369. Berdasarkan data tersebut disusun perencanaan untuk program motorisasi skala tradisionil dengan tujuan mengurangi jumlah perahu layar. Pada tahun 2006 berhasil direalisasikan bantuan mesin long tail sebanyak 165 unit.dengan sumber dana yakni dari APBD Kabupaten Padang Pariaman (35 unit) dan APBN propinsi (130)

Kemudian pada tahun akhir 2006, DKP kembali melakukan evaluasi terhadap dampak bantuan yang telah diberikan, dan Alhamdulillah telah memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Manfaat langsung yang dirasakan oleh nelayan adalah ; biasanya dalam melaut mereka sangat tergantung kepada musim (angin), sekarang mereka relatif lebih leluasa untuk melaut, disamping itu jangkauan ke fishing graund waktu yang terpakai jauh lebih cepat, sehingga hasil tangkapan nelayan akan jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan menggunakan layar.

Dari hasil evaluasi yang dilakukan, justru yang paling mencengangkan adalah bertambahnya jumlah perahu layar yakni melebihi jumlah bantuan yang telah direalisasikan yakni sebanyak 169 unit perahu layar, sehingga total perahu layar pasca bantuan tahun 2006 justru bertambah menjadi 373 unit. Adapun yang menyebabkan bertambahnya perahu layar tersebut adalah pertama, dampak positif dari bantuan itu sendiri, kedua, adalah syarat yang telah ditetapkan untuk penerima bantuan, yakni nelayan yang diberi bantuan adalah yang memilki perahu sendiri.

Dari kenyataan tersebut, maka Bupati membuat kebijakan yang ditekankan kepada DKP Padang Pariaman yakni pada tahun 2009 Padang Pariaman harus bebas perahu layar pada tahun 2009. Dan Alhamdulillah kebijakan ini dapat diimplementasikan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Total mesin long tail yang didistribusikan semenjak tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 berjumlah sebanyak 538 unit.

Seiring dengan keberhasilan tersebut, ternyata tidak didukung kebijakan nasional, dimana pemerintah memberlakukan kenaikan harga BBM. Kondisi tersebut tentu akan berdampak langsung terhadap peneurunan pendapatan nelayan, karena nelayan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan BBM. Sebetulnya kenaikan harga BBM sudah diprediksi dari awal pemberian bantuan mesin long tail ini, sebagai bukti seiring dengan program bantuan long tail Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman prasaran penangkapan, yakni program rumponisasi.

Rumpon adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang dilaut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan tersebut dimaksudkan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul disekitar rumpon, sehingga ikan mudah untuk ditangkap.Dengan pemasangan rumpon maka kegiatan penangkapan ikan akan menjadi lebih efektif dan effisien karena tidak lagi
berburu ikan (dengan mengikuti ruayanya); tetapi cukup melakukan kegiatan penangkapan ikan disekitar rumpon tersebut.

Dengan keterbatasan keuangan daerah, selama tahun 2006 sampai tahun 2008 baru dapat direalisasikan rumpon sebanyak 51 unit. Dalam pendistribusiannya, rumpon ini diserahkan kepada kelompok nelayan. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan dampak dari bantuan rumpon terhadap hasil tangkapan nelayan ini cukup baik, tetapi dari segi pengelolaan kurang efektif. Kondisi ini secara psikologis nelayan kita dalam beraktifitas kurang bisa beradaptasi dalam kelompok, dalam beraktifitas mereka lebih cenderung bersifat individu.

Sejalan dengan upaya pemerintah Kabupaten Padang Pariaman untuk peningkatan produksi perikanan maka sangatlah tepat apabila penggunaan rumpon dikembangkan, tetapi tidak dalam bentuk kelompok. Untuk pemberian bantuan rumpon kedepan DKP Padang Pariaman akan melakukan kajian yang komprehensif, sehingga bantuan tersebut betul-betul bermanfaat bagi masyarakat

Kajian ini perlu dilakukan karena pemasangan rumpon selain menimbulkan efek positif juga menimbulkan beberapa masalah, antara lain akibat pemasangan rumpon yang tidak teratur dan lokasi yang berdekatan dapat merusak pola ruaya ikan yang berimigrasi jauh sehingga mengganggu keseimbangan dan konflik antar nelayan, kemudahan penangkapan ikan dengan menggunakan rumpon dapat menimbulkan overfishing, dll.

Dengan kajian tersebut akan tertatanya pemasangan rumpon agar terjaga kelestarian sumberdaya ikan; terciptanya Pedoman Pembinaan Sarana Perikanan Tangkap khususnya rumpon; untuk menghindarkan konflik sosial antara nelayan pemilik rumpon dan yang tidak memiliki rumpon; terbinanya pengelolaan rumpon yang melibatkan unsur-unsur terkait. sehingga tercapai kesinambungan dan keserasian usaha dilapangan dan tujuan untuk kelestarian sumberdaya ikan; tersusunnya mekanisme pendataan, penandaan dalam pemasangan rumpon serta mekanisme evaluasi produktifitas penangkapan ikan di sekitar rumpon.

Dari kedua program yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman paling tidak ada 5 (lima) pendekatan pemberdayaan masyarakat nelayan yang telah diimplementasikan.
Kelima pendekatan tersebut adalah: (1) penciptaan lapangan kerja sebagai sumber pendapatan bagi rumah tangga perikanan, (2) melalui pola bantuan dana bergulir mendekatkan masyarakat dengan sumber modal dengan penekanan pada penciptaan mekanisme mendanai diricara sendiri (self financing mechanism), (3) mendekatkan masyarakat dengan sumber teknologi baru yang lebih berhasil dan berdaya guna, (4) memperkuat kelembagaan ekonomi nelayan, dan (5) membangun solidaritas serta aksi kolektif di tengah masyarakat.

Kelima pendekatan ini dilaksanakan dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh aspirasi,
keinginan, kebutuhan, pendapatan, dan potensi sumberdaya yang dimiliki masyarakat, sehingga program bebas perahu layar dan program rumponisasi akan dapat memutus rantai kemiskinan nelayan. Selama ini image yang berkembang adalah kemiskinan nelayan berada dalam lingkaran yang tidak jelas ujung dan pangkalnya, sehingga sulit bagi pengambil kebijakan untuk mencarikan solusinya. Tetapi apabila suatu kebijakan yang akan diambil berdasarkan permasalahan kaca mata nelayan, Insya Allah kebijakan ini akan dapat terlaksana sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. (DKP Padang Pariaman, Juni 2009)

Senin, 01 September 2008

GEMPA DAN TSUNAMI ; Suatu Tinjauan Al Quran dan Teori


Dalam beberapa hari terakhir, penulis disibukan mengumpulkan berbagai literatur tentang gempa dan tsunami, sebagai bahan sosialisasi. Sosialisasi tentang gempa dan tsunami sangat perlu dilakukan, sebab fenomena tentang keresahan masyarakat yang kita lihat sekarang ini disebabkan ketiadaktahuan masyarakat tentang gempa dan tsunami itu sendiri. Kondisi ini lah yang menyebabkan mereka dengan mudah menerima isu-isu yang berkembang ditengah masyarakat, sehingga mereka dihantui ketakutan yang luar biasa.
Dari beberapa kali sosialisasi yang dilakukan(di sekolah dan masjid), penulis melihat audience begitu antusias mendengarkannya sampai acara berakhir. Dalam sosialisasi tersebut, penulis mencoba menjelaskan kebenaran yang terkandung dalam Al Quran dengan teori gempa dan tsunami yang berkembang saat ini.
Dalam tulisan ini penulis mencoba menjelaskan gempa dan tsunami di tinjau dari aspek Al Quran dan Teori, dengan merujuk kepada pendekatan sifat, sehingganya akan melahirkan pola kecenderungan perubahan sikap manusia dalam menghadapi musibah.
Kalau kita telusuri kata gempa dengan menggunakan software Al Quran Digital, maka kata gempa secara tegas dinyatakan sebanyak 4 (empat) kali, yakni pada Surat Al A’raaf (ayat; 78, 91 dan 155) dan Surat Al ‘Ankabut ayat 37. Dalam Surat Al An’aam ayat 65 kalimat gempa hanya ditemukan dalam penjelasan. Selanjutnya kalau lebih dikembangkan lagi dengan kalimat “Bumi digoncangkan” (identik dengan gempa), maka akan ditemukan tersebut sebanyak 4 (empat) kali juga, yakni pada Surat Ar Ra’d ayat 31, Al Waaqi’ah ayat 4, Surat Al Fajr ayat 21 dan Surat Al Zalzalah ayat 1.
Selanjutnya dengan menggunakan software Integreted Tsunami Database for the Pacific dijelaskan bahwa gempa bumi telah mulai tercatat pada tahun 416 sampai sekarang ini. Kondisi ini menunjukan bahwa jauh sebelumnya Al Quran telah menjelaskan bahwa tentang keberadaan gempa. Seharusnya gempa bukanlah hal yang baru bagi kita, khususnya bagi pemeluk agama islam.
Secara etimologi, menurut DR. Subandono (2005), Gempa merupakan peristiwa alam, terjadi secara mendadak, timbul karena adanya pelepasan energi, sebagai akibat pergeseran relatif batuan/lempeng tektonik/kerak bumi.
Merujuk kepada defenisi tersebut, maka dalam Al Quran dalam Surat Al Zalzalah ayat 1 dan 2, secara jelas dikatakan Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya,
Demikian halnya dengan Tsunami, secara tegas kalimat tsunami tidak akan kita temukan dalam Al Quran, karena tsunami berasal dari bahasa jepang (tsu = pelabuhan, nama = gelombang laut), tetapi kalau dihubungkan dengan defenisi yang diberikan oleh Bakornas (2005) tsunami itu sendiri adalah sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut, tsunami ini menimbulkan gelombang besar kedaerah pantai.
Memperhatikan defenisi dari tsunami tersebut, maka dalam Al Quran akan ditemukan 2 (dua) ayat yakni dalam Surat Al Infithar ayat 3,”dan apabila lautan menjadi meluap” dan Surat At Takwiir ayat 6 “dan apabila laut dipanaskan”. Makna ke dua Surat tersebut, adalah saling mempertegas, dimana laut akan meluap karena karena adanya proses pemanasan didasar bumi.
Menurut teori, gangguan implusif adalah seperti gempa tektonik, erupsi vulkanik, dan longsoran (land slide). Tsunami menyebabkan terjadinya bencana didarat dan dilaut, sebagaimana yang dijelaskan pada Surat Al An’am ayat 63, dimana Allah menanyakan kepada manusia yakni, Katakanlah: "Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut?.
Setelah kita memahami apa arti gempa dan tsunami, pertanyaan selanjutnya adalah apa penyebab gempa dan tsunami ?,
Menurut Bakornas (2005) menjelaskan penyebab gempa adalah pergerakan kulit lempeng bumi. Pergerakan lempeng ini dalam Al Quran dijelaskan dalam Surat Al Ghosyiyah ayat 20 yakni, “Apakah mereka (orang-orang kafir) tidak melihat bagaimana bumi (daratan) dibentangkan (dipisahkan) satu dengan yang lainnya”.
Dalam teori konveksi dinyatakan bahwa, pada 300 juta tahun lalu pemukaan bumi merupakan satu kesatuan yang disebut Pangea, selanjutnya pada 200 juta tahun berikutnya Pangea terbelah menjadi dua : Gondwana (Afrika, Australia, Antartika dan India) dan Laurasia (Eropa, Amerika Utara, dan Asia) Yang bergerak ke arah yang berbeda Gondwana dan Laurasia terbelah menjadi daratan-daratan kecil Bergerak pada permukaan bumi secara terus menerus sejauh beberapa cm/ tahun.
Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa lempeng bergerak ?.
Bumi yang kita diami ini bukanlah padat, strukturnya adalah sebagai berikut ; 1) Litosfer (kerak bumi); terdiri dari kerak samudra dengan ketebalan berkisar 10 km dan kerak benua dengan ketebalan berkisar 80-100 km, 2) Astenosfer; Lapisan dibawah litosfer ini berbentuk batuan setengah cair dengan temperatur berkisar 1.200 derajat celcius, 3) Mantel; Tersusun atas batuan vulkanik dengan tempeartur sekitar 3.000 derajat celcius, 4) Inti Luar; Tersusun atas logam cair, membangkitkan medan magnet bumi, 5) Inti Dalam; Tersusun atas logam padat walaupun suhu disini mencapai 6.000 derajat celcius.
Kalau lebih dirinci lagi, struktur bumi ini ada tujuh lapis tujuh lapis, 1) tanah tempat kit bermukim, 2) litosfer, 3) Astenosfer, 4) Mantel bagian luar, 5) Mantel bagian dalam, 6) Inti luar dan 7) Inti dalam, strukur ini sesuai dengan Surat Ath Thalaaq ayat 12 yaitu “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu”.
Tentang panas dipusat bumi ini dijelaskan dalam Surat Ath-Thur ayat 6, yakni “Dan laut yang di dalam tanahnya ada api”. Akibat adanya panas dipusat bumi maka cairan ada diatasnya akan mendidih, sehingga lempeng benua dan lempeng samudera akan mengapung di atas astenosfir dan mengalami pergerakan.
Pergerakan lempeng ini ada yang saling mendekat dan menjauh dengan kecepatan pergerakan berbeda satu dengan yang lainnya (rata-rata 6-12 cm perthunnya). Pergerakan lempeng yang saling mendekat ini lah yang menyebabkan terjadi pertemuan 2 (dua) lempeng. Posisinya lempeng benua lebih di atas bila dibandingkan lempeng samudera (karena perbedaan berat jenis), sewaktu terjadi penujaman ujung lempeng samudera menuju kearah pusat bumi, sedangkan ujung lempeng benua bertumpu pada lempeng samudera.
Pada kondisi ini akan terjadi dua situasi, 1) pada ujung lempeng benua akan timbul Tekanan disebabkan pergerakan perlahan lahan lempeng-lempeng benua, pergerakan ini selanjutnya akan menimbulkan retakan (patahan = terbentuk karena adanya batuan rapuh). Disaat tekanan semakin meningkat pada tingkat tertentu, akan terjadi pergerakan mendadak. Energi yang dilepaskan menyebabkan batuan disekitarnya bergetar, sehingga terjadi gempa bumi. 2) Selanjutnya pergerakan lempeng samudera, yang ujungnya menuju pusat bumi mengalami peleburan batuan dan lelehan batuan ini bergerak ke permukaan melalui rekahan kemudian membentuk busur gunungapi di tepi benua.
Pada pergerakan lempeng yang saling menjauh secara horizontal, akan menimbulkan rekahan atau patahan. Patahan atau rekahan tersebut menjadi jalan ke permukaan lelehan batuan atau magma sehingga membentuk busur gunungapi tengah benua atau banjir lava sepanjang rekahan. Penipisan kerak samudera akibat pergerakan lempeng memberikan kesempatan bagi magma menerobos ke dasar samudera, terobosan magma ini merupakan banjir lava yang membentuk deretan gunungapi perisai.
Fenomena terjadinya patahan, dan terbentuknya gunung-gunung apa ini dapat ditemukan dalam Al Quran pada 1). Surat Ar Ra’du ayat 41 “dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah (orang-orang kafir), lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya”.
2) Surat An Naba ayat 6 dan 7, yakni “Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? Dan gunung-gunung sebagai pasak?
Seluruh ayat yang dikemukan, ini merupakan pembuktian dari Al A’laa ayat 1 dan 2, yakni yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.
Manusia diseru dalam Surat Thaahaa ayat 81, yakni “Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia”.
Himbauan Allah ini selalu diabaikan oleh manusia, sehingga terjadi deplesi terhadap sumberdaya yang berlebihan, contoh eksplorasi minyak bumi, gas alam cair, pertambangan lainnya, sehingga telah menimbulkan dampak untuk generasi berikutnya, lihat saja kasus Lapindo.
Bukan saja eksploitasi terhadap sumberdaya yang dilakukan oleh manusia, manusia itu sendiri juga telah mengeksploitasi dirinya sendiri, sehingga telah menimbulkan kehidupan yang tidak harmonis antara manusia dengan lingkungan, dan manusia dengan manusia, apalagi manusia dengan Sang Khaliq, seperti yang digambarkan dalam Surat Ar-Ruum ayat 41 yaitu “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Semua bencana ini tidak akan terjadi, apabila semua manusia itu tunduk dan patuh untuk melaksanakan seluruh perintah dan menghentikan semua larangan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, sebagaimana yang disampaikan pada Surat Al Hadid ayat 22, yakni “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.
Dari berbagai tinjauan yang disampaikan di atas, terjawablah bahwa gempa bumi dan tsunami merupakan proses dari Allah untuk penyempurnaan ciptaan-Nya. Penyempurnaan ciptaannya ini, bukan hanya berlaku kepada bumi, tetapi juga kepada penghuninya

PROFIL PULAU PIEH KABUPATEN PADANG PARIAMAN

1.Pendahuluan

Kawasan Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya mempunyai potensi bahari dan biota laut yang perlu dilindungi dan dapat dikembangkan untuk pemanfaatan wisata bahari. Potensi yang dimiliki Pulau Pieh antara lain hamparan terumbu karang, topografi bawah laut yang unik, ikan karang, penyu, mangrove, biota lainnya pantai pasir putih dan air laut yang bening.
Keunikan lainnya dari Pulau Pieh yaitu daerah daratan di tengah pulau yang berupa lahan rawa yang langsung berhubungan dengan laut, dimana ketinggian air yang terdapat di rawa-rawa ini sangat dipengaruhi oleh pasang surut. Daerah ini dapat dikembangkan sebagai aquarium alam yang sangat menarik bagi wisatawan.
Berdasarkan kondisi di atas Kawasan Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan dan perkebunan RI sebagai Kawasan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) berdasarkan Surat Keputusan No. 070/Kpts-II/2000 tanggal 28 Maret 2000 dengan luas kawasan 39.900 hektar. Penentuan status TWAL tersebut berdasarkan kriteria penentuan kawasan konservasi laut yang memiliki keanekaragaman biota laut dan lingkungan yang memungkinkan untuk dikembangkan sebagai objek wisata.

2. Keadaan Umum Kawasan

2.1. Letak, Luas dan Batas Kawasan
Secara geografis Pulau Pieh berada pada posisi 100005’71” S dengan jarak dari daratan Kabupaten Padang Pariaman ± 17 mil, dengan luas ± 4,5 Ha.. Secara administrasi Pemerintahan Pulau Pieh dan Perairan Sekitarnya ini termasuk ke dalam Kabupaten Padang Pariaman dengan batas-batas kawasan sebagai berikut :
•Sebelah Utara Perbatasan dengan Samudera Indonesia.
•Sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia.
•Sebelah Barat dengan samudera Indonesia dan
•Sebelah Timur dengan daratan Sumatera.

2.2. Topografi dan Oseanografi
Topografi Pulau Pieh dan Pulau Bando adalah datar dengan ketinggian hampir sejajar dengan permukaan laut. Pada bagian tengah Pulau Pieh agak rendah berupa rawa yang airnya sangat tergantung pasang surut laut.
Topografi pantai dengan pulau ini umumnya datar dan berpasir putih; dengan kedalaman perairan pantai 1 – 3 meter pada batas 70 meter. Rataan terumbu di sekeliling Pulau Pieh dari Timur-Selatan berbentuk drop 700-900. Antara Timur-Selatan terdapat drop yang diperkirakan sudut kemiringannya 1000 (wall) hal mana merupakan keunikan tersendiri dari Pulau Pieh.
Salinitas perairan Pulau Pieh berkisar antara 33-34%, suhu perairan berkisar antara 28-320C. Kondisi Salinitas dan suhu tersebut cukup bagus bagi pertumbuhan terumbu karang.
Angin dan gelombang di perairan Padang Pariaman sangat dipengaruhi oleh angin dari Samudera Hindia dengan ketinggian gelombang maksimum 3 meter yang terjadi pada bulan Juli dan Desember. Secara umum pola sirkulasi air diperairan pantai Kabupaten Padang Pariaman bergerak dari arah utara-barat laut kearah tenggara, sejajar dengan Orientasi pantai. Pola ini hampir berlangsung tetap sepanjang tahun, kecuali pada bulan Agustus arus bergerak kearah sebaliknya.

2.3. Kualitas Air
Perubahan kualitas perairan lebih banyak disebabkan oleh musim/iklim. Fluktuasi sering terjadi pada peralihan musim, baik dari musimpenghujan ke musim kemarau ataupun sebaliknya. Tetapi perubahan-perubahan ini tidak terlalu mempengaruhi kehidupan biota laut.

2.4. Iklim dan Curah Hujan
Suhu udara tercatat antara 260 – 29 0C, suhu maksimum 31,43 0C sedangkan suhu minimum 22,60 0C. Temperatur terpanas jatuh pada bulan Mei dan suhu terendah pada bulan Desember. Kecepatan angin berkisar antara 1,0-1,7 knot.
Curah hujan rata-rata mencapai 4.200,5 mm/tahun, dan kelembaban udara cukup tinggi yaitu sebesar 80%. Curah hujan berkisar antara 2.500-77—mm/tahun dengan jumlah hari hujan antara 132-267 hari hujan/tahun, sedangkan suhu berkisar antara 220 – 31 0C dengan kelembaban udara 82-85%.

2.5. Hidrologi
Air tanah yang dapat dimanfaatkan di Pulau Pieh adalah air tanah yang berupa resapan air hujan. Karena luasnya yang tidak terlalu besar air tanahnya berkadar garam tinggi.

2.6. Tata Guna Lahan
Pulau Pieh sampai saat ini belum mempunyai data tata guna lahan. Saat ini di Pulau Pieh baru ada satu pondok milik Pusat Studi Penelitian Perikanan Bung Hatta (PSPP-UBH) yang digunakan sebagai basecamp untuk memonitor Pulau Pieh. Di Pulau Pieh banyak tumbuh kelapa, dan pada bagian tengah Pulau Pieh tumbuh Nipah (Nypa frutican).

3. Potensi Sumberdaya Pesisir dan Lautan

Sumberdaya alam dapat pulih yang terdapat di Pulau Pieh meliputi mangrove, terumbu karang, padang lamun, rumput laut, sumberdaya perikanan dan bahan-bahan biotik.

3.1. Flora dan Fauna
Di Pulau Pieh flora dominan adalah kelapa dan Nipah (Nypa frutican). Pada Pulau Pieh tumbuhan ini merupakan tempat hidup bagi berbagai jenis burung dan satwa daratan lainnya. Beberapa jenis burung yang terdapat di Pulau Pieh antara lain, Elang Laut (Haliarctus leucogaster), Dara laut (Sterna sp.) , Pucung (Roko-roko), Barabah , Barau-barau (Cucak rawa) dan Burung Raou. Reptil yang dijumpai di Pulau Pieh antara lain Biawak (Varanus sp.), Penyu hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Erecmochelys imbricata).

3.2. Terumbu Karang
Terumbu Karang memiliki produktivitas dan keanekaragaman yang tinggi. Fungsi ekologisnya antara lain sebagai tempat pemijahan, pembesaran, tempat mencari makan, terumbu karang juga dipandang penting karena produk yang dihasilkan seperti ikan karang, ikan hias, udang, alga dan bahan-bahan bio-aktif.

Berdasarkan penelitian Kunzmann et. All (1994) presentase penutupan (percent over) kondisi terumbu karang di Pulau Pieh paling baik diantara 27 pulau/gosong yang diteliti oleh di perairan Sumatera Barat dengan persen cover rata-rata 76,6 %.
Disamping terumbu karang perairan Pieh juga sangat kaya dengan ikan karang, baik berupa ikan hias, maupun ikan konsumsi. Ikan hias laut di kawasan Pieh ini cukup potensial untuk didayagunakan, khususnya bagi wisata bawah air maupun objek penelitian.

Disamping ikan di Pieh juga dapat ditemui penyu, yaitu penyu hijau dan penyu sisik. Pualu Pieh merupakan lokasi bertelurnya penyu-penyu tersebut. Tahun 1997 dilaporkan antara 10-20 ekor penyu hijau bertelur setiap harinya. Penyu ini bertelur pada malam hari dari pukul 20.00 sampai 04.00.

3.3. Moluska dan Echinodermata (Binatang Berkulit Duri)
Potensi fauna akuatik di Perairan Pulau Pieh masih memiliki prospek baik untuk dikembangkan. Jenis-jenis hewan yang tergolong dalam Phylum Moluska antara lain keong, kerang, cumi-cumi. Moluska yang ditemukan di Pieh antara lain Kima raksasa (Giant clam). Biota lainnya seperti kepiting dan rajungan.

3.4. Jasa Lingkungan
Hamparan pantai berpasir putih di sepanjang pantai Pulau Pieh dan kondisi air yang cukup jernih merupakan perpaduan potensi lingkungan yang dapat dikembangkan sebagai objek wisata laut. Kegiatan wisata pantai umumnya memanfaatkan keindahan lingkungan, antara lain kejernihan air laut, keindahan pasir pantai dan panorama lingkungan seperti sunset dan sunrise, serta mengintip penyu bertelur.

4. Upaya Pengelolaan dan Pengembangan
Untuk mencapai tujuan pengelolaan, maka kepada investor diberikan batasan kegiatan yang diizinkan seperti :
1.Konservasi
2.Budidaya laut seperti ; mutiara, ikan kerapu, kimah raksasa, lobster dan teripang.
3.Ekowisata dan
4.Basis penangkapan ikan.